Kamis, 18 Oktober 2012

TEKNIS BUDIDAYA KAKAO (Theobroma cacao. L) DAN PESTISIDA NABATI


TEKNIS BUDIDAYA KAKAO (Theobroma cacao. L)
DAN PESTISIDA NABATI
Oleh : MUHAMMAD DARWIS, SP
A..    Teknis Budidaya Kakao
Kakao  (Theobroma cacao)  atau lebih populer di kalangan petani Sulawesi selatan dengan sebutan cokelat, adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah dan Selatan, khususnya  hulu Sungai Amazone. Ketika Benua Amerika ditemukan, kakao telah menjadi bahan makanan orang Aztek dan ternyata tanaman kakao telah diusahakan beberapa abad sebelumnya (Saranga.P, 1988)
Tanaman kakao sudah dimanfaatkan sebagai bahan pencampur minuman oleh Bangsa Indian suku Maya di Amerika tengah sejak abad Sebelum Masehi, tetapi baru diperkenalkan ke dunia luar pada abad ke-15.  Usaha pengembangan tanaman kakao dirintis oleh Bangsa Spanyol ke Benua Afrika dan Asia. Di Afrika kakao dikembangkan terutama di Nigeria, Kongo dan Pantai Gading, sedangkan di Asia terutama di negara-negara yang berdekatan dengan kawasan Pasifik. Kakao pertama kali diperkenalkan di Indonesia melalui Filiphina masuk ke Sulawesi Utara pada tahun 1560. Pemuliaan tanaman cokelat yang pertama di Indonesia dimulai pada Tahun 1921, oleh Dr. C,J.J Van Hall, yang kemudian melahirkan beberapa klon cokelat jenis Criollo yang sampai sekarang masih digunakan dengan kode DR dan G (Djati Renggo dan Getas) dalam berbagai nomor (Siregar.THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L, 1993)
Penanaman kakao membutuhkan persyaratan yang cukup ketat, khususnya menyangkut sifat tanah dan keadaan iklim.
Sifat kimia tanah yang dikehendaki yaitu pH ideal 5,6 – 7,2,  Kisaran pH tanah yang masih dapat diterima oleh tanaman kakao adalah tidak lebih rendah dari 4 dan tidak lebih tinggi dari 8. hal ini terkait dengan efek racun dari Al, Fe dan Mn pada pH rendah dan ketersediaan hara pada pH tinggi. Sifat kimia lainnya yang juga berperanan adalah kadar zat organik. Kadar zat organik yang tinggi akan meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum panen (TBM). Olehnya itu, kadar zat organik pada lapisan tanah seebal 0- 15 cm sebaiknya lebh dari 3%, atau setara dengan 1,75% unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang gembur. Sifat fisik tanah yang berperanan adalah tekstur tanah. Tekstur tanah yang baik untuk kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30-40% fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu. Susunan demikian akan mempengaruhi ketersediaan hara dan air serta aerasi tanah.  (Siregar. THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L, 1993)
Adapun sifat iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao yaitu temparatur dan kelembaban. Tanaman kakao membutuhkan temperatur rata-rata tahunan 25 oC, dengan temperatur rata-rata harian tidak kurang dari 15 oC, sedangkan batas maksimum belum diketahui (Soenaryo dan Sangap Situmorang,  1978). Menurut Soenaryo dan Sangap (1978) bahwa akibat dari suhu yang terlampau rendah adalah terhambatnya pembungaan, perkembangan primordia bunga terhenti..
Selanjutnya dikatakan oleh Soenaryo dan Sangap (1978) bahwa  di Indonesia kakao dapat tumbuh dengan subur di daerah dengan curah hujan lebih dari 3.000 mm, tetapi dapat pula tumbuh pada curah hujan 1.700 mm, yang penting dari curah hujan ini bukan jumlahnya melainkan penyebarannya sepanjang tahun.  Dikatakan pula bahwa tanahpun ikut berperanan dalam menentukan curah hujan,  untuk tanah lempng curah hujan tinggi tidak perlu, 1.500 mm sudah cukup asalkan merata sepanjang tahun, sedangkan untuk tanah-tanah berpasir curah hujan harus tinggi karena kemampuan menyimpan air dari tanah demikian sangat jelek.
Van Hall dalam Soenaryo dan Sangap (1978) mengemukakan bahwa struktur tanah, dalamnya tanah, kecepatan angin, adanya hutan cadangan, dll merupakan faktor-faktor yang memiliki peranan terhadap pertumbuha kakao.
Faktor berikut yang mempengaruhi produksi tanaman kakao adalah bibit dan pemeliharaan. Untuk memperoleh bahan tanaman yang kelak berproduksi tinggi maka sebaiknya bibit kakao diperoleh dari kebun benih kakao, yang telah diketahui sifat-sifat induknya. Bila tidak terdapat kebun benih, maka bahan tanam biji dapat diperoleh dari pohon-pohon terpilih dari pertanaman kakao. Pohon haruslah tingi produksinya, bebas dari serangan hama dan penyakit dan berbuah sepanjang tahun. Biji dikumpulkan dari buah yang matang dan bila buah dibelah pulpnya belum kering (Siregar THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L, 1993)
B.  Pestisida Nabati
Pestisida secara luas diartikan sebagai suatu zat yang dapat bersifat racun, menghambat pertumbuhan/perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, mempengaruhi hormaon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak dan aktifiktas lainya yang mempengaruhi OPT (Kardinan, 2000) 
Menurut Kardinan (2000) bahwa psstisida nabati secara umum diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Dikatakan pula bahwa, pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, oleh karena terbuat dari bahan alam/nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.
Sutanto (2002) mengemukakan bahwa penggunaan bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sebagai tumbuh-tumbuhan sebagai pestisida atau yang lebih dikenal sebagai ‘pestisida hayati’ (biopesticide), saat ini banyak mendapat perhatian sebagai salah satu usaha ke arah pengembangan teknologi pertanian alternatif.
Pestisida nabati sudah dopraktekkan pada skala penelitian dan percobaan di laboratorium maupun di lapangan (Reintjes. at al, 1993, Stoll, 1995 dalam Sutanto, 2002).
Menurut Kardinan (2000), bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida nabati adalah tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita, di antaranya: babadotan (Ageratum conyzoides.L), serei (Andropogon nardus.L), sirsak (Annonoa muricata.L), srikaya (Annona squamosa.L), lada (Piper nigrum.L), mimba (Azadarachta indica. A.juss), mindi (Melia azedarach.L) dan tembakau (Nicotiana tabacum.L) 
Dikatakan pula bahwa pestisida nabati bersifat pukuldan lari (hit and run), yaitu bila diaplikasikan akanmembunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian tanaman tebebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi.

Sungguminasa – Gowa, 02  Maret  2012
Dipublikasikan melalui media elektronik dengan alamat blog: 
muhdar27.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar