TEKNIS BUDIDAYA
KAKAO (Theobroma cacao. L)
DAN PESTISIDA
NABATI
Oleh : MUHAMMAD DARWIS, SP
A.. Teknis Budidaya Kakao
Kakao (Theobroma cacao) atau lebih
populer di kalangan petani Sulawesi selatan dengan sebutan cokelat, adalah
tanaman yang berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah dan Selatan,
khususnya hulu Sungai Amazone. Ketika
Benua Amerika ditemukan, kakao telah menjadi bahan makanan orang Aztek dan
ternyata tanaman kakao telah diusahakan beberapa abad sebelumnya (Saranga.P,
1988)
Tanaman kakao sudah dimanfaatkan sebagai bahan pencampur minuman oleh
Bangsa Indian suku Maya di Amerika tengah sejak abad Sebelum Masehi, tetapi
baru diperkenalkan ke dunia luar pada abad ke-15. Usaha pengembangan tanaman kakao dirintis
oleh Bangsa Spanyol ke Benua Afrika dan Asia. Di Afrika kakao dikembangkan
terutama di Nigeria, Kongo dan Pantai Gading, sedangkan di Asia terutama di
negara-negara yang berdekatan dengan kawasan Pasifik. Kakao pertama kali
diperkenalkan di Indonesia melalui Filiphina masuk ke Sulawesi Utara pada tahun
1560. Pemuliaan tanaman cokelat yang pertama di Indonesia dimulai pada Tahun
1921, oleh Dr. C,J.J Van Hall, yang kemudian melahirkan beberapa klon cokelat
jenis Criollo yang sampai sekarang masih digunakan dengan kode DR dan G (Djati
Renggo dan Getas) dalam berbagai nomor (Siregar.THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L,
1993)
Penanaman kakao membutuhkan persyaratan yang cukup ketat,
khususnya menyangkut sifat tanah dan keadaan iklim.
Sifat kimia tanah yang dikehendaki yaitu pH ideal 5,6 – 7,2, Kisaran pH tanah yang masih dapat diterima
oleh tanaman kakao adalah tidak lebih rendah dari 4 dan tidak lebih tinggi dari
8. hal ini terkait dengan efek racun dari Al, Fe dan Mn pada pH rendah dan
ketersediaan hara pada pH tinggi. Sifat kimia lainnya yang juga berperanan
adalah kadar zat organik. Kadar zat organik yang tinggi akan meningkatkan laju
pertumbuhan pada masa sebelum panen (TBM). Olehnya itu, kadar zat organik pada
lapisan tanah seebal 0- 15 cm sebaiknya lebh dari 3%, atau setara dengan 1,75%
unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang
gembur. Sifat fisik tanah yang berperanan adalah tekstur tanah. Tekstur tanah
yang baik untuk kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30-40%
fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu. Susunan demikian akan mempengaruhi
ketersediaan hara dan air serta aerasi tanah.
(Siregar. THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L, 1993)
Adapun sifat iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao yaitu
temparatur dan kelembaban. Tanaman kakao membutuhkan temperatur rata-rata
tahunan 25 oC, dengan temperatur rata-rata harian tidak kurang dari
15 oC, sedangkan batas maksimum belum diketahui (Soenaryo dan Sangap
Situmorang, 1978). Menurut Soenaryo dan
Sangap (1978) bahwa akibat dari suhu yang terlampau rendah adalah terhambatnya
pembungaan, perkembangan primordia bunga terhenti..
Selanjutnya dikatakan oleh Soenaryo dan Sangap (1978) bahwa di Indonesia kakao dapat tumbuh dengan subur
di daerah dengan curah hujan lebih dari 3.000 mm, tetapi dapat pula tumbuh pada
curah hujan 1.700 mm, yang penting dari curah hujan ini bukan jumlahnya
melainkan penyebarannya sepanjang tahun.
Dikatakan pula bahwa tanahpun ikut berperanan dalam menentukan curah hujan, untuk tanah lempng curah hujan tinggi tidak
perlu, 1.500 mm sudah cukup asalkan merata sepanjang tahun, sedangkan untuk
tanah-tanah berpasir curah hujan harus tinggi karena kemampuan menyimpan air
dari tanah demikian sangat jelek.
Van Hall dalam Soenaryo dan
Sangap (1978) mengemukakan bahwa struktur tanah, dalamnya tanah, kecepatan
angin, adanya hutan cadangan, dll merupakan faktor-faktor yang memiliki peranan
terhadap pertumbuha kakao.
Faktor berikut yang mempengaruhi produksi tanaman kakao
adalah bibit dan pemeliharaan. Untuk memperoleh bahan tanaman yang kelak
berproduksi tinggi maka sebaiknya bibit kakao diperoleh dari kebun benih kakao,
yang telah diketahui sifat-sifat induknya. Bila tidak terdapat kebun benih,
maka bahan tanam biji dapat diperoleh dari pohon-pohon terpilih dari pertanaman
kakao. Pohon haruslah tingi produksinya, bebas dari serangan hama dan penyakit
dan berbuah sepanjang tahun. Biji dikumpulkan dari buah yang matang dan bila
buah dibelah pulpnya belum kering
(Siregar THS, Riyadi.S dan Nuraeni.L, 1993)
B. Pestisida Nabati
Pestisida secara luas diartikan sebagai suatu zat yang dapat bersifat
racun, menghambat pertumbuhan/perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan,
mempengaruhi hormaon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat,
penolak dan aktifiktas lainya yang mempengaruhi OPT (Kardinan, 2000)
Menurut Kardinan (2000) bahwa psstisida nabati secara
umum diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari
tumbuhan. Dikatakan pula bahwa, pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan
kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, oleh karena terbuat dari bahan
alam/nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak
mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena
residunya mudah hilang.
Sutanto (2002) mengemukakan bahwa penggunaan bahan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan sebagai tumbuh-tumbuhan sebagai pestisida atau yang lebih
dikenal sebagai ‘pestisida hayati’ (biopesticide), saat ini banyak mendapat
perhatian sebagai salah satu usaha ke arah pengembangan teknologi pertanian
alternatif.
Pestisida nabati sudah dopraktekkan pada skala penelitian dan percobaan di
laboratorium maupun di lapangan (Reintjes. at al, 1993, Stoll, 1995 dalam Sutanto, 2002).
Menurut Kardinan (2000), bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
pestisida nabati adalah tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita, di antaranya:
babadotan (Ageratum conyzoides.L),
serei (Andropogon nardus.L), sirsak (Annonoa muricata.L), srikaya (Annona squamosa.L), lada (Piper nigrum.L), mimba (Azadarachta indica. A.juss), mindi (Melia azedarach.L) dan tembakau (Nicotiana tabacum.L)
Dikatakan pula bahwa pestisida nabati bersifat pukuldan
lari (hit and run), yaitu bila
diaplikasikan akanmembunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh
maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian tanaman tebebas
dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi.
Sungguminasa – Gowa,
02 Maret
2012
Dipublikasikan melalui
media elektronik dengan alamat blog:
muhdar27.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar