Kamis, 18 Oktober 2012

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO


PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO
Oleh :  MUHAMMAD DARWIS, SP

Hama PBK adalah hama yang paling populer dan menjadi momok bagi petani kakao, dikenali sebagai serangga dengan nama Conopomorpha cramerella atau cacao mot atau pod borer. Serangannya  menyebabkan kemerodotan produksi hingga 60 – 80 persen. Serangan PBK pada buah mengakibatkan biji gagak berkembang, biji di dalam buah akan saling melekat, bentuknya kecil dan ringan. Buah muda yang terserang mengalami perubahan warna sebelum matang. Serangan PBK menyebabkan persentase biji cacat meningkat sehinga biaya pemanenannya pun bertambah. Kulit buah yang terserang akan sangat mudah ditumbuhi jamur. Bila buah matang terserang maka biji-biji tidak akan berbunyi pada waktu diguncang karena sudah saling melekat. (Siregar.THS, Riyadi S dan Nuaraeni L, 1993).
Selanjutnya dikatakan bahwa, PBK berbiak dengan cara meletakkan telur-telurnya di alur kulit buah. Larva yang keluar dari telur biasanya langsung memasuki buah denga cara membuat lubang kecil pada kulit buah. Di dalam buah larva memakan daging buah tepat di bawah kulit dan di antara biji, plasenta pun turut digerek.
Kupu-kupu aktif pada malam hari sejak pukul 18.00 – 20.30. siang hari mereka berlindung di tempat-tempat yang lembab dan tidak terkena cahaya matahari. Serangan PBK sejak dalam bentuk telur sampai dewasa berumur 30 hari, melewati; 7 hari fase telur, 16 hari fase ulat, dan 7 hari fase kepompong. Kupu-kupu berukuran panjang 7 mm dan lebar 2 mm. Bila sayap direntangkan mencapi panjang 12-13 mm, dengan anena di kepala yang lebih panjang dari badannya. Sayapnya berwarna coklat berpola batik. Telurnya berukuran panjang 0,5 mm dan lebar 0,8 mm, berwarna merah jingga  ulat keluar dari buah dengandengan menyusuri lubang yang dibuatnya secara khusus dan turun dengan bantuan sehelai benang halus, kemudian ulat tersebut hinggap di daun untuk menjadi kepompong. Setelah menjadi kupu-kupu, telur diletakkan di bagian kulit buah jumlahnya 50 – 100 butir pada tiap buah.
Secara umum pengendalian hama yang dianjurkan dalam Penyuluhan Pertanian adalah pengendalian berdasarkan konsep PHT. Pengendalian dengan konsep PHT dimulai dengan tindakan pencegahan (preventif), yaitu karantina, pemilihan pohon induk dan benih serta perawatan dan pengamatan dini. Namun jika tindakan pencegahan ini ternyata tidak efektif mengendalikan hama dan penyakit maka barulah dilakukan pengendalian dalam arti khusus (kuratif) yaitu menekan populasi organisme penganggu (OPT) sampai di bawah ambang toleransi. Dalam hal ini cara yang dikedepankan adalah cara-cara yang ramah lingkungan, yakni cara mekanis, fisis dan biologis.
Menurut Untung. K (1993),  pengertian PHT (pengendalian hama terpadu) adalah satu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggungjawab.
Sedangkan menurut Flint. M.L dan Robert Van Den Bosch, bahwa PHT adalah strategi pengendalian hama berdasar ekologi yang menitikberatkan pada faktor-faktor mortalitas alami seperti musuh alami dan cuaca serta mencari taktik pengendalian yang mengganggu faktor-faktor ini seminimal  mungkin. PHT memanfaatkan pestisida tetapi hanya setelah dilakukan pemantauan sistematik terhadap populasi hama dan faktor pengendali hama menunjukan perlunya penggunaan pestisda. Secara ideal, program PHT memperhitungkan semua tindakan pengendalian hama yang tersedia, termasuk juga tidak bertindak apa-apa, dan mengevaluasi interaksi antara bermacam-macam taktik pengendalian, cara-cara bercocok tanam, cuaca, hama lain dan tanaman budidaya yang akan dilindungi.
Jadi, jelaslah bahwa konsep PHT merupakan pendekatan yang menawarkan strategi pengendalian hama yang terbaik pada tanaman termasuk tanaman kakao.
Adapun strategi pengendalian hama PBK menurut konsep PHT, dapat dikemukakan sebagai berikut;
a.   Karantina
Karantina adalah tindakan mengisolasi suatu obyek/organisme di suatu tempat/lokasi khusus sebelum obyek/organisme tersebut berbaur dengan komunitas di wilayah yang bersangkutan. Dalam karantina ini pemerintah akan melakukan pengawasan, penyitaan dan pemusnahan terhadap bahan tanaman yang dianggap tercemar hama, seperti buah, entris, biji, karung dan media lainnya yang dapat menyebarkan hama PBK. Tindakan tersebut bertujuan mencegah masuknya PBK dari daerah terserang hama ke daerah lain yang masih bebas, baik secara domestik, antar pulau atau antar propinsi, maupun antar negara.
b.   Teknik Bercocok Tanam
Tindakan pencegahan berikutnya adalah mengupayakan pembudidayaan tanaman yang sehat. Tindakan ini diawali dengan pemilihan pohon induk yang tidak terserang  PBK, kemudian memilih biji-biji yang sehat (sempurna) yang berasal dari buah kakao yang sempurna pula. Bila memungkinkan diusahakan menanam  jenis yang tahan hama dan penyakit, terutama jenis Upper American Hybrids, Forastero, atau kakao jensi bulk.  (Siregar.THS, Riyadi dan Nuraeni, 1993)Selanjutnya adalah penanaman yang baik dan disusul kemudian dengan perawatan yang intensif.  Berdasarkan pola hidup  PBK sebagaimana telah diungkapkan di atss, maka perawatan yang sangat diperlukan dalam mencegah perkembangan PBK adalah pemangkasan yang teratur, baik pada tanaman kakao maupun pelindungnya. Dengan pemangkasan yang teratur maka tempat-tempat yang gelap dan lembab yang sangat disukai kupu-kupu PBK dapat dimimalkan
c.   Rampasan Buah
Rampasan buah adalah memetik semua buah yang menggantung di pohonnya. Tindakan ini tujuan untuk memutuskan daur hidup PBK dengan cara meniadakan ketersediaan makan yang sesuai kebutuhannya  di lapangan.  Menurut Soenaryo dan Sangap Situmorang (1978), buah-buah yang menggantung di pohon sekitar bulan Oktober semua di rampas. Ini berarti mengorbankan sekitar 30% dari seluruh produksi setahun atau kadang-kadang lebih. Jelaslah mengapa kerugian paling sedikit 30% dari hasil. Selanjutnya dikatakan bahwa kerugian yang bersifat ongkos dan mutu yaitu: (1) ongkos rampasan, ongkos memecah buah yang lebih mahal, (2) biaya lebih mahal produksi lebih kecil, (3) mutu rendah  yang berakibat harga jual yang rendah pula.
d.   Penyelubungan Buah
Penyelubungan buah atau biasa dikatakan kondomisasi adalah menyelubungi buah yang masih muda (panjang 8 – 10 cm) dengan kantong plastik berukuran panjang 30 cm dan lebar 15 cm. Bagian pangkal diikat dengan tangkai buah sedangkan bagian ujung dibiarkan tetap terbuka. Tindakan ini bertujuan menghambat ngengat/kupu-kupu betina meletakan telurnya pada buah tersebut.
e.   Panen Sering, Serentak dan teratur
Panen sering, serentak dan teratur bertujuan untuk menghilangkan dan membunuh larva PBK yang berada di dalam buah dan belum sempat keluar (Anonim, 2000),  Sementara itu,  Suntoro (2001) mengemukakan bahwa panen sering dimaksudkan untuk memutus rantai perkembangan PBK. Dengan demikian ulat, telur atau kepompong yang berada pada buah tersebut tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi kupu-kupu yang dapat bertelur lagi.
 Terdapat hubungan yang erat, menurut Mumfrod (1980) dalam Anonim (2000), antara panen dengan keberadaan PBK. Dikatakan bahwa, sekitar 90% larva PBK masih berada dalam buah yang masak awal dan masak. Olehnya itu, jika buah segera dipanen pada saat adanya tanda-tanda masak (nampak sedikit kekuningan pada kulit buah dengan biji-biji sudah longgar di dalamnya) maka sebagian besar larva ikut  serta di dalamnya.   Dengan mengetahui bahwa waktu perkembangan PBK sejak dari telur sampai menjadi kupu-kupu ialah 22 – 23 hari, maka dengan interval satu mingu sekali berdasarkan pengalaman di lapangan cukup memadai. Panen buah kakao dapat dilakukan pada saat masak fisiologis dengan adanya sedikit perubahan warna kulit.
d.   Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan adalah meciptakan kebersihan lingkungan pertanaman. Pembersihan gulma dan pemangkasan yang teratur baik pada pelindung mapun pada tanaman kakao serta pembersihan limbah-limbah lainnya akan meniptakan lingkungan yang sehat, tidak lembab dan tidak gelap sehinga hama dan penyakit secara umum tidak mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
f.  Penggunaan Pestisida
 Menurut Suntoro (2001) bahwa karena ulat PBK selalu berada di dalam buah kakao, sehinga bukan sasaran yang tepat dalam pemakaian pestisida. Sasaran pokok penggunaan pestisida adalah kupu-kupu pada saat isterahat atau meletakka telur. Dengan demikian obyak yang disemprot adalah adalah buah dan tempat-tempat peristerahatan kupu-kupu yaitu cabang-cabang horisontal sampai yang miring 20o. Selanjutnya dikatakan bahwa dengan hanya menyemprot terbatas pada buah dan jourget kakao, dapat menekan serangan PBK hingga serangan ringan yang tidak mempengaruhi produksi secara nyata.
Jenis pestisida yang digunakan, menurut Suntoro (2001) adalah golongan piretroid, dengan dosis 0,5 cc/liter air dan dalam satu hektar hanya disemprot 10 tangki (150 liter) larutan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar